Situs resmi Adiwarman A. Karim Penentu Sikap Orang Terhadap Investasi
YOU ARE HERE: Home

Penentu Sikap Orang Terhadap Investasi

E-mail Print PDF

Mengapa seseorang menjadi bersifat konservatif, atau bahkan agresif dalam berinvestasi? Faktor-faktornya dijelaskan berikut ini.

 

Mengembangkan dana yang kita miliki semaksimal mungkin, umumnya dilakukan dengan cara investasi. Seperti yang kita pahami, investasi beresiko tinggi biasanya mendatangkan keuntungan yang besar, dan sebaliknya, investasi beresiko rendah, biasanya keuntungannya pun kecil. Maka itu setiap individu berbeda-beda kecenderungannya dalam berinvestasi. Ada yang konservatif, ada yang sedikit berani, dan ada pula yang sangat berani atau agresif. Faktor apa saja yang kira-kira mereka perhitungkan sehingga bisa berbeda-beda kecenderungan, dijabarkan oleh Presiden Direktur Karim Business Consulting, Adiwarman Karim.

“Kali ini kita akan bahas kali ini adalah, faktor-faktor apa yang membuat orang bisa kita bagi menjadi tipe-tipe yang kita bahas sebelumnya, konservatif, cautious, prudent, asertif dan agresif.

Beberapa faktor yangmenentukan adalah umurnya. Semakin muda seseorang, makin terbuka berbagai alternatif dia untuk melakukan investasi, dengan berbagai return dan resiko yang juga sangat beragam. Relatif semakin muda semakin berani mengambil resiko yang lebih tinggi.

Yang kedua adalah faktor harapan hidup seseorang. Semakin tinggi kesadaran individu akan kesehatan, fasilitas kesehatan dan gaya hidup, membuat orang memiliki harapan hidup yang lebih baik. Ini menyebabkan banyak orang lebih sehat, tapi di sisi lain menyebabkan orang harus menyiapkan hidup lebih lama. Jadi harus lebih hati-hati dalam melakukan perencanaan ke depan.

Yang ketiga adalah variabel tanggungjawab keuangan dari individu. Pada satu kebudyaan, tanggung jawab hanya terbatas pada suami istri dan anak-anak. Tapi pada kebudayaan lain mengatakan tidak. Orang tua, adik-adik bahkan keponakan bisa merupakan tanggung jawab keuangan yang mereka tanggung. Ini juga akan mempengaruhi tipe-tipe orang yang sudah kita bahas.

Yang berikutnya adalah periode waktu. Semakin besar periode waktu untuk mengakumulasi kekayaaan, maka semakin besar pula resiko ketidakmampuan atau ketidakpastian mencapai arus kas yang diharapkan. Misalkan kalau rencana kita 25 tahun, lebih tidak pasti dibandingkan kalau rencananya kita pecah jadi 5 tahunan. Karena berbagai variabel menjadi sangat fluktuatif kalau jangka waktunya lebih panjang.”

Empat faktor pertama tadi, sekali lagi adalah usia, harapan hidup, besarnya tanggung jawab keuangan dan periode waktu. Faktor berikutnya adalah jenis pendekatan yang digunakan, sumber pendapatan, tingkat pengembalian pasar dan toleransi resiko. Adiwarman Karim menjelaskan lebih lanjut.

"Yang kelima adalah variable jenis pendekatan. Kemarin kita bahas kalau investasi yang sifatnya konservatif, moderat, agresif, tergantung dari tipe individunya.

Variabel keenam adalah sumber pendapatan. Ini merupakan satu hal yang penting, karena mereka yang punya sumber pendapatan lebih dari satu, tentu akan berbeda. Misalnya selain gaji tetap mempunyai pendapatan sampingan, misalnya jadi public speaker, di mana dia bisa memperkirakan tambahan pendapatannya. Orang yang punya pendapatan lebih banyak, lebih leluasa, lebih berani untuk mengambil perencanaan. Lebih agresif dalam merencanakannya, daripada orang yang sumber pendapatannya cuma satu itu saja. Orang yang sumber pendapatannya cuma satu itu saja, akan cenderung lebih konservatif.

Yang ketuju adalah variabel tentang tingkat pengembalian pasar yang diharapkan. Maksudnya tingkat return dari investasi yang mereka buat. Semakin tinggi tingkat persaingan antara perencanaan keuangan yang satu daripada yang lainnya, ini kadang bisa membuat tingkat pengembaliannya lebih kecil. Dalam artian di sini tentu kita ingin mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Kalau pasar yang pemainnya, pilihannya cuma sedikit, misalnya ambil contoh syariah yang instrumennya belum banyak, tentu di sini returnya tidak kompetitif, artinya orang dikasi return yang kecil, orang mau saja.. Tapi kalau pilihannya banyak, maka akan terjadi persaingan yang lebih ketat, karena masing-masing portfolio investasi akan berupaya menang dalam kompetisi tersebut.

Yang kedelapan adalah toleransi resiko. Misalnya orang punya 100 juta, lebih berani mengambil resiko 10 juta, dibanding orang yang punya 20 juta, kemudian harus menanggung kerugian 10 juta.”

Itulah 8 faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berinvestasi. Dan bagi mereka yang belum pernah berinvestasi, ke-8 faktor tadi bisa menjadi bahan acuan, seperti dijelaskan oleh Adiwarman Karim, Presiden Direktur Karim Business Consulting.

November 13, 2006 [aji : aji @ mediacorp.com.sg]

Penentu Sikap Orang Terhadap Investasi