Situs resmi Adiwarman A. Karim LPS dan Turunnya SBI
YOU ARE HERE: Home Media Magazine LPS dan Turunnya SBI

LPS dan Turunnya SBI

E-mail Print PDF

Kolom Opini | AZZIKRA | April 2007

Bank Indonesia baru saja menurunkan lagi BI Rate dua puluh lima basis poin dari 9,25% menjadi 9%. Diperkirakan BI Rate akan terus turun seja­lan dengan turunnya laju inflasi. Rumus gampangnya BI Rate ditetapkan dua persen di atas inflasi. Bila tahun ini diperkirakan inflasi turun terus serendah 6%, maka BI Rate diperkirakan akan turun terus mencapai 8%.

Penurunan BI Rate biasanya akan diikuti de­ngan penurunan bunga penjaminan LPS (Lembaga Penjaminan Simpanan), dan beri­kutnya bunga penjaminan ini akan diikuti in­dustri perbankan dalam menentukan tingkat bunga simpanan nasabahnya. Bila hal ini terjadi, maka bunga deposito juga akan turun menjadi 8%. Bagi per­bankan syariah keadaan ini di satu sisi akan meningkat­kan daya saing dalam menghimpun dana karena bagi ha­sil perbankan syariah yang merefleksikan tingkat keun­tungan sektor riil relatif stabil pada kisaran 8-10% dalam rentang waktu 1992-2007, kecuali dua keadaan ekstrim yaitu tahun 1997 dan awal 2005. Pada tahun 1997 dalarn keadaan krisis bagi hasil bank syariah hanya 6%, dan di akhir 2004 sampai dengan awal 2005 bagi hasil perban­kan syariah mencapai 12%. Selain bagi hasil yang lebih kompetitif, regulasi office chanelling juga mendorong pe­ningkatan dana pihak ketiga.

Bila perbankan syariah memberikan bagi hasil lebih tinggi daripada bunga penjaminan LPS, secara teori na­sabah enggan menyimpan di bank syariah karena nasa­bah mungkin merasa lebih tenang bila simpanannya ikut dijamin oleh LPS. Bila teori ini benar, maka bank syariah enggan memberikan bagi hasil yang lebih tinggi daripada bunga penjaminan LPS. Kenyataannya tidak demikian. Ketika bank syariah memberikan bagi hasil 12% pada akhir 2004 dan awal 2005, bunga penjaminan LPS lebih kecil. Tampaknya bank syariah harus tunduk pada akad syariah yang telah disepakatinya, dan tidak dapat be­gitu saja secara serta merta menurunkan bagi hasilnya mengikuti turunnya bunga penjaminan LPS.

Apakah keadaan ini akan berulang lagi? Tampaknya keadaannya akan berbeda saat ini. Penyebabnya adalah jumlah simpanan yang dijamin LPS akan dibatasi hanya seratus juta rupiah saja. Artinya dana-dana korporasi dan nasabah-nasabah besar tidak lagi masuk dalam program penjaminan LPS. Dampaknya, dana-dana nasabah besar akan dipindahkan ke bank-bank besar yang mempunyai reputasi. Bank-bank asing, bank-bank milik pemerintah, beberapa bank besar lokal mungkin dapat dimasukkan kedalam kategori ini.

Artinya untuk segmen nasabah dengan simpanan di atas seratus juta, penjaminan LPS bukan lagi menjadi bahan pertimbangan. Bagi nasabah yang penting adalah reputasi bank dan kompetitifnya tingkat bunga atau bagi hasil bila di bank syariah. Jadi dalarn segmen ini, peitiang bank syariah yang bagi hasilnya lebih kompetitif daripada bunga bank konvensional, asalkan bank syariah mempu­nyai reputasi baik, diperkirakan akan terjadi migrasi dana ke bank syariah secara signifikan. Logika ini yang men­jadi salah satu faktor yang akan mendorong terwu.judnya second booming industri perbankan syariah.

Bagaimana dengan segmen nasabah dengan sim­panan seratus juta ke bawah? Bagi segmen reputasi bank menjadi pertimbangan utama, termasuk di dalam­nya layanan kualitas dan hal-hal lain yang membentuk reputasinya. Tingkat bunga bank konvensional dan bagi hasil bank syariah akan terbatas dampaknya dalam mem­pengaruhi keputusan nasabah memilih bank. Dalam riset pasar yang kami lakukan malah tingkat bunga tidak sig­nifikan pengaruhnya.

Jadi, diperkirakan pada tahun 2007 ini akan terjadi perubahan perilaku nasabah penyimpan terutama yang memiliki dana diatas seratus juta rupiah. Uang seperti be­jana berhubungan, yang akan selalu mencari tempat yang lebih menarik sampai insentif untuk memindahkan dana tidak ada lagi. Bila insentif berupa arbitrage pricing su­dah tidak ada lagi maka tidak ada dorongan untuk mela­kukan migrasi akan terhenti, dan keseimbangan baru akan tercapai.

Alternatif pertama, memang memin­dahkan dana mereka ke syariah. Dengan kapasitas industri perbankan syariah saat ini, memang akan terjadi migrasi secara signifikan dari sudut pandang bank sya­riah. Namun dari sudut pandang nasabah-nasa­bah besar nominal yang migrasi tersebut hanya sebagian kecil dana me­reka.

Alternatif kedua, sabah besar ini memin­dahkan dana mereka ke SBI (Sertifikat Bank Indo nesia) satu bulan. Bila ini ter­jadi, BI akan membayar bunga lebih besar lagi. Sumber pembayaran bunga berasal dari transaksi valuta asing dan dari pencetakan uang baru. Bila pembayaran bunga akhirnya dilakukan dengan pencetakan uang baru, maka jumlah uang beredar akan naik yang berarti akan mendorong inflasi. Bila inflasi naik, berarti BI Rate sebagai benchmark suku bunga akan naik, dengan benchmark ini berarti jumlah bunga SBI yang akan dibayar naik. Bila tidak hati-hati, kondisi ini dapat mendorong efek spiral naiknya inflasi. Langkah ekstrim yang da­pat dilakukan BI untuk mencegah migrasi ke SBI satu bulan, adalah meniadakan instrumen SBI satu bulan.

Alternatif ketiga, bila SBI satu bulan ditiadakan dampaknya adalah dorongan untuk migrasi ke valuta asing. Bila ini terjadi, maka nilai rupiah akan tertekan.

Alternatif lainnya adalah instrumen pasar modal. Secara teori memang tingkat suku bunga berbanding terba­lik dengan imbalan instrumen pasar modal. Bila terjadi migrasi ke pasar modal, maka sebaiknya instrumen pasar modal yang berbasis syariah untuk menghindari fluk­tuasi harga secara tajam. Well, siapa bilang gampang jadi otoritas keuangan.

All in all, apapun pilihan kebijakan BI dan Departe­men Keuangan sebagai otoritas keuangan, instrumen syariah tetap merupakan pilihan yang sulit untuk diabai­kan. Dari segi skala ekonomi mernang instrumen syariah memang tidak signifikan dampaknya terhadap pereko­nomian makro.

Setiap pengembangan instrumen syariah haruslah di­pandang sebagai suatu pilot project yang nantinya dapat digunakan dalam skala makro ekonomi. Memposisikan keuangan syariah sebagai pengganti konsep ekonomi yang saat ini berjalan, tanpa mempersiapkan infrastrukturnya, hanya akan membuat keuangan syariah sebagai suatu utopia.

Ingatlah bagaimana Rasulullah saw. bersama para sahabat mengubah wajah semenanjung Arab, bah­kan megubah wajah dunia, dengan proses bertahap-tahap. Mulai dari hal kecil, namun secara istiqamah mewarnai dan kemudian mengubah budaya Arab Jahiliyah seperti bola salju, se­hingga akhirnya terwujud pe­rekonomian dan budaya baru yang diberkahi Allah.

Rasulullah adalah seorang pedagang (business man), da'i sekaligus ekonom yang terbiasa jujur, bisa di­percaya dalam mengemban amanah, perkataan­nya selalu benar, dan selalu berpikir smart dalam menjalankan aktivitas dakwah maupun bisnis. Hal inilah yang membuat Rasulullah bisa diper­caya, dihargai dan disegani sehingga Isiam den­gan sistem ekonominya yang adil dan mengun­tungkan, bisa tumbuh kembang dengan pesat.

Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang te­lah membuktikan kemampuannya mengubah wa­jah dunia setelah Perang Dunia II. Bukankah kita yang mengawali memproklamirkan kemerdekaan dari penjajah, yang kemudian diikuti oleh bangsa-­bangsa lain?.

LPS dan Turunnya SBI
 

Statistics

Members : 20429
Content : 153
Web Links : 6
Content View Hits : 372821

Who's Online

We have 29 guests online