Situs resmi Adiwarman A. Karim Investor Asing Perlu Belajar lagi tentang Indonesia
YOU ARE HERE: Home Media Magazine Investor Asing Perlu Belajar lagi tentang Indonesia

Investor Asing Perlu Belajar lagi tentang Indonesia

E-mail Print PDF

ADIL [Ekonomi] |No. 11, 08 - 21 Maret 2007

Bicara soal perkembangan industri keuangan syariah, rasanya belum lengkap bila belum berdiskusi dengan Adiwarman A Karim, sosok yang energik namun tetap up to date membedah persoalan­-persoalan bisnis. Direktur Utama lembaga konsultan syariah, Karim Business Consulting (KBC), yang diakui secara internasional ini bersedia berbagi pikiran dengan Rachmat Adhani dari ADIL sebelum menunaikan shalat Jum'at.

Apakah yang mendasari optimisme Anda bahwa tahun 2007 ini adalah tahunnya ekonomi syariah?

Pertama, tingkat suku bunga Bank Indonesia yang rendah. Ini akan menyebabkan perbankan syariah menjadi lebih kompetitif terhadap perbankan konvensional. Sehingga orang akan banyak beralih ke bank syariah. Kedua, di tahun 2007 ini yang kami ketahui kurang lebih ada 10 bank lagi yang akan membuka layanan syariah, sehingga akan lebih banyak bank dan asuransi yang menawarkan layanan syariah. Ketiga, otoritas dalarn hal ini Bank Indonesia, Departemen Keuangan, Bapepam-LK sudah menyiapkan peraturan-peraturan yang kondusif untuk pengembangan industri keuangan syariah.

Selama ini, pajak ganda mengakibatkan 'pricing' produk keua­ngan syariah sedikit lebih tinggi dibanding produk keuangan konvensional, sehingga dikuatirkan akan mempengaruhi 'competitiveness'-nya. Tanggapan Anda?

Sebenarnya saat pertama kali berdiri pada 1992, Bank Muamalat pernah berkirim surat kepada Dirjen Pajak yang waktu itu dijabat Mar'ie Muhammad tentang masalah ini. Lalu beliau membalas surat itu yang memberikan konfirmasi bahwa transaksi perbankan syariah tidak terkena pajak. Ketika muncul Undang-Undang No.18 Tahun 2000 tentang PPN hal itu juga diperjuangkan. Sehingga semua jasa perbankan syariah itu dikecualikan, tidak terkena PPN. Saya juga tidak tahu kenapa akhirnya sekarang muncul ide kena PPN. Padahal Undang-Undangnya belum ada yang berubah, dan surat konfirmasi dari Dirjen Pajak yang waktu itu dikeluarkan Mar'ie Muhammad sampai saat ini masih kami simpan rapih di Bank Muamalat. Kita harapkan masalah ini bisa selesai dengan cepat, tidak lagi ada penagihan-penagihan dari Kantor Pelayanan Pajak terhadap transaksi-­transaksi keuangan syariah. Karena pada dasarnya, mereka memang tidak terkena pajak.

Menurut Anda, apa saja yang bisa dilakukan untuk mencapai target pertumbuhan industri keuangan syariah sebesar 5 persen pada 2008 nanti?

Pertama, harus ada produk-produk baru yang bisa mendorong pertumbuhan yang sangat pesat, misalnya KPR Syariah dan Kartu Kredit Syariah. Kedua, penerbitan sukuk oleh pemerintah. Ketiga, proses globalisasi. Dengan adanya proses globalisasi, masuknya bank­bank asing ke Indonesia dan berbagai instrumen yang mereka bawa, Indonesia akan menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan keuangan syariah di dunia.

Anda pernah mengatakan bahwa industri keuangan syariah di Indonesia adalah "good business with poor public relation". Menurut pengamatan Anda, apakah hal tersebut masih terjadi hingga saat ini?

Masih. Itulah sebabnya kami melakukan event-event syariah seperti kemarin. Itu adalah upaya kami untuk membuat public relation ini menjadi lebih baik. Karena kami melihat, walaupun Bank Indonesia telah mendirikan Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES), tapi grand strategy untuk public relation baik ke dalam negeri, apalagi ke luar negeri masih sangat kurang memadai. Tidak banyak orang luar negeri yang paham bahwa keuangan syariah di Indonesia sudah sedemikian majunya. Bahkan, di dalarn negeri pun tidak banyak orang yang mengetahui kemajuan-kemajuan dari industri keuangan syariah yang ada. Saya kira yang harus mendidik pasar ialah pihak otoritas, yaitu Bank Indonesia, Departemen Keuangan, dan Bapepam-LK.

Potensi dana Timur Tengah untuk diinvestasikan dalam skim bisnis syariah sangat besar, tapi kenapa peluang tersebut belum termanfaatkan dengan baik?

Pertama, investor Timur Tengah sebenarnya perlu waktu lebih banyak lagi untuk belajar tentang Inclonesia. Bagi mereka, Indonesia bukanlah tempat investasi yang pernah mereka pikirkan selama ini. Mereka selalu investasi ke Arnerika dan Eropa, sebab di sana regulasinya sudah sangat mapan, sehingga mereka tidak khawatir tentang apapun. Oleh karena itu, perlu waktu lebih banyak lagi bagi kawan-kawan kita di Timur Tengah untuk menimbang-nimbang masuk ke Indonesia. Kedua, memang ada beberapa masalah seperti perburuhan dan sebagainya yang lagi-lagi membuat mereka ragu berinvestasi pada sektor riil. Ketiga, para pengusaha Indonesia sendiri juga sebetulnya harus membangun reputasi mereka, sebab selama ini para investor dari Timur Tengah menganggap bahwa pengusaha Indonesia itu "agak manja". Saya rasa, waktu akan membuktikan bahwa negara sebesar Indonesia ini terlalu besar untuk diabaikan siapapun, termasuk oleh para investor asing. •

Investor Asing Perlu Belajar lagi tentang Indonesia
 

Statistics

Members : 33734
Content : 154
Web Links : 6
Content View Hits : 466355

Who's Online

We have 31 guests online