Situs resmi Adiwarman A. Karim Sistem Syariah Berkah Buat BPD
YOU ARE HERE: Home Media Magazine Sistem Syariah Berkah Buat BPD

Sistem Syariah Berkah Buat BPD

E-mail Print PDF

PROGRES EDISI NO.4/TAHUN I/AGUSTLIS 2007

Oleh : Kris Fanka

Tahun ini diprediksi sebagai tahun second booming bagi industri syariah, setelah mengalami pertumbuhan stagnan sepanjang tahun lalu.

Sejak awal tahun ini, berbagai regulasi yang dikeluarkan Bank Indonesia untuk meraih target aset 5% aset perbankan syariah dari total aset perbankan konvensional, pada tahun depan.

 

Pelonggaran aturan perbankan sya­riah disambut meriah kalangan perbankan konvensional. Mulai dari yang serius menam­bah office channeling, hingga beberapa perbankan kelas atas seperti BCA dan BRI sedang mengintip bank-bank kecil untuk diakuisisi, selanjutnya akan dijadikan sebagai bank sya­riah. Jadi, bukan sekadar unit atau divisi per­bankan tersebut.

Bank Pembangunan Daerah (BPD) tak ingin ketinggalan, mereka juga berlomba-­lomba membentuk unit usaha syariah (UUS). Awalnya, UUS hanyalah bagian dari strategi bertahan BPD dalam menghadapi "gem­puran" bank umum lainnya yang gencar membuka unit syariah hingga ke daerah. Na­mun, dalam pejalanannya UUS justru sebuah peluang bisnis baru. "Ini berkah bagi BPD," ungkap Direktur Utama Karim Business Consulting Adiwarman Karim. Tidak han­ya itu, system syariah telah pembawa pe­rubahan dalam tubuh BPD, dalam kaitan perubahan corporate culture. Berikut peti­kan wawancaranya.

Bisa Anda ceritakan bagaimana perkembangan terakhir industri per­bankan syariah?

Perkembangan industri perbankan syariah tahun ini khususnya pada semester II, kita juluki atau identifikasi sebagai second booming. Pada tahun 2004, adalah booming pertama industri perbankan syariah, tahun itu sekitar 10 bank buka unit syariah. Namun, tahun 2006 cenderung stagnan akibat BI Rate terlalu tinggi waktu itu. Nah, tahun 2007, ketika BI Rate turun saya lihat respons dari perbankan luar biasa, kira-­kira ada 10 bank syariah akan dibuka. Bank Pembangunan Daerah (BPD) juga mulai ramai-ramai buka unit syriah.

Berarti tingkat persaingannya semakin tajam?

Tahun ini memang banyak langkah maju, terutama pertumbuhan anor­ganik yaitu masuknya pemain baru di industri perbankan syariah. Di sisi lain, pertumbuhan organik juga mengalami lompatan besar. Beberapa produk baru mulai diperkenalkan oleh pemain yang sudah ada. Misalnya, Bank Danamon dengan Kartu Kredit Syariah, HSBC Amanah iklannya gencar untuk masuk sektor ritel. Dulunya, mereka masih di sektor korporasi sekarang juga akan masuk di sektor ritel. Bank Permata mu­lai agresif membuka office channeling.

Lalu, posisi Bank Muamalat sekarang?

Bank Muamalat tidak tinggal diam. Bank pelopor syariah itu lewat salah satu produknya telah menggandeng berbagai pihak. Ini sebuah langkah yang sangat positif. Bank Muamalat di beberapa cabang mereka sudah mulai menawarkan KPR dengan jangka waktu 20 tahun.

Ada kabar menarik, Bank Ekspor Indonesia (BEI) juga mulai melirik produk syariah.

Saya kira itu sangat bagus. BEI akan membawa dampak besar nanti­nya, saat ini belum ada satupun bank syariah yang mempunyai spesialisasi di bidang trade finance. Jadi, dari pertum­buhan unorganik dan organik akan cepat sekali.

Menurut Anda, target Bank Indo­nesia sebesar 5% untuk pertumbuhan aset bank syariah dari total aset bank konvensional, itu terlalu rendah atau tinggi?

Berdasarkan proyeksi yang kami buat, pertumbuhan aset bank syariah tahun depan diperkirakan mencapai angka 5,65%. Sebelum BI bikin target kami sudah buat proyeksinya, waktu itu angka BI baru sekitar 2 koma sekian. Jadi, kemungkinan besar terlampaui target BI, karena dorongan dari pasar begitu kuat. Selama ini yang terjadi BI agak sedikit ketat dalam mengawalnya. BI inginkan bila infrastruktur belum begitu siap pertumbuhan jangan digen­jot. Selama ini, saya melihat BI sangat hati-hati.

Tetapi, beberapa kelonggaran untuk pengelolaan bank syariah mulai ditawarkan Bl. Tanggapan Anda?

Sekarang, BI mulai memahami apa itu perbankan syariah dengan lebih baik. BI bisa lebih memperhitung­kan risikonya lebih cermat. Makanya berbagai kebijakan mulai dilonggarkan oleh BI, seperti bendungan pecah gitu loh. Mudah-mudahan bendungan yang pecah itu tidak jadi banjir

Bagaimana seharusnya para pemain mengantisipasi atau meman­faatkan kelonggaran aturan BI itu?

Pelonggaran aturan itu dimulai pada semester I tepatnya awal Mei. Harapannya mulai terasa dampaknya pada semester II paling cepat, itu sudah luar biasa. Namun, saya perkirakan dampaknya secara signi­fikan mulai terasa pada tahun depan. Saat ini, kalangan perbankan baru melakukan penyesuaian atas peraturan baru tersebut.

Dalam kaitan BPD, menurut Anda langkah ideal yang harus ditempuh menggarap produk syariah?

BPD ini memang unik. Mungkin seba­gian orang akan menilai BPD menghadir­kan unit syariah sebagai strategi bertahan. Pasalnya, bank-bank yang berkantor pusat di Jakarta mulai masuk ke daerah-daerah membikin unit syariah sehingga mungkin aparat di daerah, Pemda, DPRD bertanya-­tanya kok tamu kita datang ke rumah kita ini bikin syariah, kita sendiri tidak punya syariah.

Jadi, awalnya hanya sebuah strategi bertahan?

Awalnya seperti itu. Tetapi setelah program syariah beberapa BPD berjalan sukses, mulai ditiru BPD lainnya.

Bahkan beberapa BPD unit syari­ahnya dijadikan pilot proyek, gedungnya dibuat model baru, disertai budaya kerja baru. Dalam perkembangannya ternyata bisnis syariah sebuah peluang tersendiri. Selain itu, telah merubah corporate culture BPD sebagai sebuah budaya kerja baru. Jadi boleh dikatakan unit syariah memberi kontribusi angin baru dalam kehidupan BPD

Anda ingin mengatakan sebagai berkah buat BPD?

Betul. Dengan adanya unit syariah BPD merekrut karyawan baru, jadi ada darah-darah baru dengan culture yang baru. Boleh dibilang sekarang ini BPD-BPD mempunyai banyak agen pembaruan. Mudah-mudahan BPD menjadi jauh lebih baik. Satu hal yang lebih menarik lagi, dengan adanya unit syariah sesama bank syariah terjalin kekompakan, termasuk bank konvensional yang memiliki unit syariah. •

LEASING SYARIAH JADI ALTERNATIF

Perkembangan industri keuangan syariah terus bergulir. Anda yang merasa ragu dengan produk-produk keuangan kon­vensional kini tak perlu khawatir lagi. Produk keuangan syariah paling baru yang bisa menjadi alternatif bagi Anda adalah pembiayaan (leasing) syariah. Adalah Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang menjadi pelopor penyelenggaraan produk tersebut.

Setelah berhasil memperoleh izin dari Departemen Keuangan, BM1 menggandeng Islamic Development Bank (IDB) dan Bank Bubian of Kuwait untuk menjadi investor Al ljarah Indonesia Finance. Menurut Direktur Utama BMI Riawan Amin, IDB menyertakan anak perusahaannya dalam Al Ijarah Indo­nesia Finance tersebut yaitu International Leasing Islamic Company (ILIC).

Izin leasing Islam sebelumnya sempat ditutup Departemen Keuangan. Alasannya tidak boleh ada perusahaan pembiayaan baru. Belakangan Departemen Keuangan merevisi larangan tersebut.

Riawan berharap juli ini, perusahaan leasing itu sudah bisa diluncurkan ke publik. Bahkan, dia sudah membayangkan ada pembiayaan sindikasi internasional yang tertarik pada perusahaan tersebut saat diluncurkan, "Kita berharap pada saat launching sudah ada sebuah pembiayaan sindikasi internasional yang kita teken."

Modal awal perusahaan yang sebesar Rploo juta itu, menurut Riawan akan ditanggung investor Al ljarah Indonesia Finance. Bahkan dia memprediksi di saat peluncuran produk tersebut modal itu akan terus bertambah. "Setelah dilun­curkan, mungkin akan ada penambahan saham baru untuk memperbesar porsi dan pemain dari Timteng," Riawan menjelas­kan.

Bahkan Riawan yakin jika persoa­lan modal dalam perusahaan tersebut tidak akan menjadi masalah berarti. BMI, menurut dia, tidak akan menambah modal lagi, namun investor asing terutama dari Timur Tengah akan terus berdatangan. "Target modal akan disesuaikan dengan kebutuhan. lika pembiayaan dan proyek bertambah tentu saja modal itu harus ditambah," demikian Riawan.

Meski begitu, tidak berarti kehadiran Al ljarah tanpa kendala. Menurut Riawan kendala tersebut adalah soal selera antara pengusaha Indonesia dan investor Timur Tengah. Menurut Riawan, investor Timur Tengah itu menginginkan masuk ke proyek real estate dan infrastruktur. Sementara BMI sangat concern dengan kebutuhan rakyat seperti listrik. •

Sistem Syariah Berkah Buat BPD
Last Updated ( Monday, 16 July 2012 14:51 )  

Statistics

Members : 18459
Content : 140
Web Links : 6
Content View Hits : 361884

Who's Online

We have 40 guests online