Situs resmi Adiwarman A. Karim Mujahid Ekonomi dari Timur
YOU ARE HERE: Home article Mujahid Ekonomi dari Timur

Mujahid Ekonomi dari Timur

E-mail Print PDF

REPUBLIKA | Senin, 10 Maret 2014

Bankir dan pengusaha seringkali memiliki cara pandang yang berbeda untuk suatu keadaan bisnis yang sama karena memiliki informasi yang berbeda.  Kejelian George Akerlof, Michael Spence dan Joseph Stiglitz dalam memahami adanya asymmetric information ini menjadikan mereka pemenang Nobel Prize in Economics pada tahun 2001.  Akerlof, Spence dan Stiglitz, ketiganya lahir di zona waktu timur Amerika Serikat.  Dua bentuk yang paling lazim timbul akibat adanya asymmetric information ini adalah adverse selection dan moral hazard.  Perbedaan pandangan antara bankir dan pengusaha, yang dalam bahasa kerennya disebut principal-agent problems, yang dalam perbankan syariah coba diatasi dengan transparan oleh sistem bagi hasil.

George Akerlof dengan jeli merumuskan proses salah pilih (adverse selection).  Katakan ada dua orang pengusaha yang mengajukan permohonan kredit ke bank.  Yang pertama seorang pengusaha baik dan jujur namun tidak pernah mengajukan permohonan kredit sebelumnya sehingga ia tidak memahami seluk beluk proses kredit di bank.  Yang kedua adalah seorang pengusaha curang dan gemar ngemplang kredit, sehingga ia tahu persis seluk beluk proses kredit di bank, termasuk cara-cara mengatasi masalah kredit macetnya.  Karena pengalaman dan keahliannya, pengusaha yang gemar ngemplang kredit lah yang mempunyai kemungkinan lebih besar mendapatkan kredit.  Kondisi inilah yang disebut adverse selection, atau bahasa mudahnya, salah pilih.

Sistem bagi hasil perbankan syariah yang dimaksudkan untuk mengatasi principal-agent problems, juga tidak lepas dari pilihan yang salah (adverse selection).  Pengusaha yang mengetahui bisnisnya memiliki risk adjusted return yang tinggi tentu lebih memilih kredit perbankan konvensional yang memberikan kepastian tingkat suku bunga.  Pengusaha ini akan menghindari sistem bagi hasil perbankan syariah untuk menghindari beban bagi hasil yang lebih besar dibandingkan beban suku bunga kredit.  Akibatnya hanya pengusaha-pengusaha yang memiliki risiko bisnis yang lebih besar atau memiliki return yang lebih kecil saja yang datang ke bank syariah untuk pembiayaan dengan sistem bagi hasil.

Persoalan ini yang kemudian dimitigasi oleh perbankan syariah Indonesia dengan dua konsep bagi hasil.  Pertama, two step financing yaitu bank syariah memberikan pembiayaan kepada koperasi / multi finance / bprs dengan system bagi hasil.  Selanjutnya pembiayaan tersebut akan disalurkan kepada end users dengan sistem fixed installments.  Jadi bank syariah berbagai hasil dari sesuatu yang dapat diprediksi dengan akurat.

Kedua, short term financing based on job order yaitu bank syariah memberikan fasilitas kelonggaran tarik yang dapat dicairkan bila ada surat perintah kerja dari pemberi kerja.  Atas dasar SPK itulah bank syariah memperhitungkan risiko, jangka waktu, dan perkiraan retun nya.  Jadi bank syariah pada dasarnya hanya mau melakukan pembiayaan bagi hasil bila bisnis yang dibiayainya dapat diprediksi dengan akurat.

Apa yang dilakukan bank syariah ini sebenarnya merupakan implementasi dari teori signaling yang diajukan oleh Michael Spence, dan teori screening yang diajukan oleh Joseph Stiglitz.  Apa yang dirumuskan teorinya oleh Akerlof, Spence dan Stiglitz sebenarnya merupakan bahasa lain dari rumusan yang ada dalam kitab-kitab fikih.

Bentuk kedua asymmetric information yang lazim ditemui adalah moral hazard.  Bila adverse selection (salah pilih) timbul akibat adanya informasi yang tersembunyi (hidden information), maka moral hazard timbul akibat adanya perbuatan yang tersembunyi (hidden actions).

Katakan saja seorang pengusaha yang baik dan jujur, mendapat kucuran kredit dari bank.  Selama bertahun-tahun nasabah menjaga reputasinya sebagai nasabah yang baik.  Begitu percayanya banker terhadap nasabah ini, membuat banker terlena dalam melakukan monitoring yang seharusnya tetap dilakukan.  Bank merasa nyaman dengan ketepatan pembayaran angsuran kreditnya.  Memahami beberapa tindakannya tidak dimonitor dengan seharusnya oleh bank, nasabah ini mulai menggunakan kredit yang diterima untuk kegiatan lain yang tidak sesuai dengan permohonan kreditnya.

Perlahan tapi pasti sejalan dengan semakin lemahnya monitoring bank, pengusaha ini menggunakan kredit yang diterimanya untuk kegiatan bisnis baru yang risikonya lebih besar.  Sub-prime crisis merupakan salah satu contoh teranyar moral hazard.  Nama-nama besar seperti Ginnie Mae, Fannie Mae, Freddie Mac, Salomon Brothers, Lehman Brothers telah membuat banyak investor terlena untuk menilai secara wajar risiko investasi mereka.

Dalam keuangan syariah, keharusan adanya transaksi riil sebagai dasar (underlying) suatu transaksi keuangan dimaksudkan untuk meminimalkan moral hazard.  Keharusan adanya underlying transactions ini memaksa bank untuk memastikan pengggunaan kredit sesuai dengan yang proposal yang diajukan pengusaha.  Penyimpangan penggunakan kredit (side streaming atau misused) dapat diminimalkan.

Keberhasilan Indonesia dalam menerapkan sistem pembiayaan berbasis bagi hasil, menjadi yang terbesar porsinya di dunia yaitu mencapai 35 persen dari total pembiayaan yang disalurkan telah membuka mata dunia akan kejelian para mujahid ekonomi Indonesia dalam memahami dan menghidupkan kembali kitab-kitab fikih pada konteks kekinian.

Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari, lahir di Banjar adalah ulama fiqih mazhab Syafi'i yang menggoncangkan dunia dengan kitabnya, Sabilal Muihtadin.  Beliau adalah keturunan Rasulullah saw dari jalur keluarga Alaidrus.

Memahami budaya masyarakat Banjar, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, yang terbiasa suami dan isteri sama-sama bekerja mencari rejeki, beliau menulis ijtihad ekonomi yang dipandang unik bahkan sampai saat ini.  Berlainan dengan hukum waris yang dipahami pada umumnya, beliau menjelaskan bahwa seyogyanya harta dibagi dua antara suami dan isteri, baru kemudian bagian suami dikenakan hukum waris.  Pemikiran ini kemudian melandasi munculnya konsep harta gono-gini dalam kodifikasi hukum Islam Indonesia.

Maulana Malik Ibrahim yang dikenal sebagai Sunan Gresik adalah keturunan ke-22 Rasulullah saw, lahir di Samarkand yang dalam lidah orang Jawa menyebutnya Asmarakandi.  Beliau mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan di akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.  Sistem bagi hasil pertanian paroan / maro, teluan merupakan warisan fikih yang telah menjadi budaya lokal.

Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 Rasulullah saw. Beliau banyak berdakwah melalui ekonomi kreatif dan kesenian, penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang.  Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan bonang.

Sunan Kalijaga adalah adalah murid Sunan Bonang. Sunan Kalijaga menggunakan ekonomi kreatif dan kesenian sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk Ilir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul adalah karyanya.

Penghargaan terhadap karya seni ini yang kemudian melandasi fatwa MUI tentang Hak Cipta yang  memandang hak cipta sebagai salah satu huquq maliyyah (Hak Kekayaan) yang mendapatkan perlindungan hukum (masnun) sebagaimana mal (kekayaan).   Sebagaimana mal, Hak Cipta dapat dijadikan obyek akad (al-ma’qud alaih), baik akad mua’wadhah (pertukaran, komersil), maupun akad tabarru’at (non komersial), serta diwaqafkan dan diwarisi. Setiap bentuk pelanggaran terhadap Hak Cipta, terutama pembajakan, merupakan kezaliman yang hukumnya adalah haram.

Oleh: Adiwarman A. Karim

Mujahid Ekonomi dari Timur
 

Statistics

Members : 18459
Content : 140
Web Links : 6
Content View Hits : 361887

Who's Online

We have 46 guests online