Situs resmi Adiwarman A. Karim Robert Barro dan Imam Ghazali
YOU ARE HERE: Home Media Newspaper Robert Barro dan Imam Ghazali

Robert Barro dan Imam Ghazali

E-mail Print PDF

Robert Joseph Barro dan Rachel McCleary, keduanya guru besar Universitas Harvard menemukan adanya hubungan positif antara pertumbuhan ekonomi dengan keyakinan agama seseorang, misalnya keyakinan akan adanya neraka.  Semakin kuat keyakinan seseorang semakin tinggi pertumbuhan ekonomi.

Barro, bersama Robert Lucas dan Thomas Sargent, adalah tokoh utama aliran new classical macroeconomics. Yang menarik dalam kajian mereka “Religion and Economic Growth across Countries”, Barro dan McCleary, juga menemukan adanya hubungan yang negatif antara rutinitas kunjungan ke rumah ibadah dengan pertumbuhan ekonomi.  Semakin sering ke rumah ibadah semakin rendah pertumbuhan ekonomi.

Dalam kajian mereka yang lain “Religion and Economy”, mereka juga menemukan adanya hubungan yang negatif antara  tingkat keberagamaan  dengan pendapatan individu.  Semakin aktif dalam kegiatan agama semakin rendah pendapatan seseorang.  Tampaknya keyakinan dan iman tidak selalu sejalan dengan praktek keagamaan seseorang.

Filipe Campante dan David Yanagizawa Drott, keduanya guru besar Universitas Harvard menyampaikan kesimpulan yang menarik dalam kajian mereka “Does Religion Affect Economic Growth and Happiness: Evidence from Ramadan”.  Pertama, semakin lama jam berpuasa misalnya pada musim panas yang siang harinya panjang, semakin rendah pertumbuhan ekonomi di Negara-negara Islam.  Kedua, Ramadan meningkatkan kesejahteraan subjektif ummat Islam (Subjective Well-Being).  Tampaknya Ramadan memiliki dampak yang berbeda terhadap GDP di satu sisi, dan terhadap SWB di sisi lain.

Penggunaan SWB sebagai ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi untuk melengkapi ukuran GDP telah diterapkan secara luas.  Joseph Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi, masing-masing pemenang Nobel tahun 2001, pemenang Nobel tahun 1998,  dan guru besar  Institut d'Études Politiques de Paris, dalam kajian mereka “Report by the Commission on the Measurement of Economic Performance and Social Progress” mengajukan SWB sebagai indikator penting keberhasilan ekonomi.

Temuan Campante dan Drott dalam bahasa yang lebih mudah dapat dirumuskan sebagai “if they are not buying, they are giving”.  Dalam bulan Ramadan penurunan produktifitas kerja diimbangi dengan kenaikan sedekah, yang dampak akhirnya malah bisa positif.

Kajian yang dilakukan di Universitas Leicester dan Universitas New Hamsphire menemukan adanya kenaikan keuntungan rata-rata (average gain) di pasar modal di empat belas Negara-negara Islam.  Kajian yang dilakukan dengan data saham di Bahrain, Mesir, Indonesia, Yordania, Kuwait, Malaysia, Maroko, Oman, Pakistan, Qatar, Saudi, Tunisia, Turki, Uni Emirat, dalam rentang waktu 1989-2007, menunjukkan average gain 38,09 persen di bulan Ramadan yang jauh lebih tinggi dari 4,32 persen pada bulan lainnya.

Tomasz Piotr Wisniewski, peneliti senior Universitas Leicester, dalam kajian itu menjelaskan besarnya pengaruh sentimen publik dalam bulan Ramadan yang ditandai dengan meningkatnya rasa kebersamaan dan perubahan pola makan dan pola hidup yang lebih sehat.  Kajian itu juga menemukan kenaikan signifikan pengeluaran rumah tangga dalam bentuk hadiah dan sedekah sehingga menimbulkan multiplier effect dalam perekonomian.

Temuan Barro dan McCleary bahwa keyakinan dan iman tidak selalu sejalan dengan praktek keagamaan terdengar senada dengan pandangan Imam Ghazali tentang tingkatan puasa.  Bukankah Rasulullah SAW telah mengingatkan betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapat apapun kecuali lapar dan dahaga.

Abū Ḥāmid Muḥammad ibn Muḥammad al-Ghazālī , lahir 1058 di Khorasan Iran yang ketika itu merupakan bagian kekhalifahan Bani Seljuk, dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan hubungan keyakinan dan iman dengan puasa.  Rasulullah SAW bersabda “Sabar merupakan setengah dari iman”, dan “Puasa merupakan setengah dari kesabaran”.  Imam Ghazali kemudian menyimpulkan bahwa puasa merupakan seperempat dari iman.

Dari rumusan itulah Imam Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan.  Pertama, puasa orang awam yang sekedar menjaga tidak batal puasa.  Golongan inilah yang dalam kajian Campante dan Drott menurunkan produktifitas.  Kedua, golongan orang khusus yang juga menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badan dari dosa dan maksiat.  Dalam bahasa ekonominya menahan timbulnya negative externalities and economic noises. Dalam kajian Campante dan Drott, mereka inilah yang meningkatkan SWB.

Ketiga, golongan orang crème de la crème (khususil khusus) dengan menahan hati dari keraguan akan akhirat, tidak memikirkan dunia untuk dirinya sendiri, serta selalu mendekatkan diri pada Allah SWT.  Golongan inilah yang dalam kajian Barro dan McCleary akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  Selalu merasa cukup namun selalu ingin memberi lebih.  Less for self, more for others, enough for everyone. Adiwarman Karim

Robert Barro dan Imam Ghazali
 

Statistics

Members : 18459
Content : 140
Web Links : 6
Content View Hits : 361880

Who's Online

We have 32 guests online