Situs resmi Adiwarman A. Karim Jagonya Perbankan Syariah
YOU ARE HERE: Home Award Jagonya Perbankan Syariah

Jagonya Perbankan Syariah

E-mail Print PDF

Mata kuliah ekonomi sya­riah yang dia pilih telah mengubah segalanya. Adiwarman Azwar Karim yang tadinya awam soal sistem syariah menjadi jatuh cinta pada ilmu ekonomi Islam. Juga, cita-citanya sebagai pemain bola seperti Franz Becker Bower dari klub Bayern Munchen Jerman pun kandas.

SWA Sembada | 18/XX/2 -15 September 2004

Mata kuliah ekonomi sya­riah yang dia pilih telah mengubah segalanya. Adiwarman Azwar Karim yang tadinya awam soal sistem syariah menjadi jatuh cinta pada ilmu ekonomi Islam. Juga, cita-citanya sebagai pemain bola seperti Franz Becker Bower dari klub Bayern Munchen Jerman pun kandas. Obsesi menjadi konsultan syariah justru lebih menggebu-gebu setelah banyak belajar tentang sistem ekonomi itu secara otodidak. Tak disangka, ia kini tampil sebagai ikon industri syariah di Indonesia.

A.M. Saefuddin adalah orang pertama yang  memperkenalkan Adiwarman dengan dunia syariah. Ceritanyabegini. Tahun 1983, manakala ia sebagai mahasiswa Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor sedang kuliah manajemen pemasaran. Kebetulan saat itu dosennya (A.M. Sae­fuddin, mantan KetuaBulogdan Menteri Perta­nian) mengajar tentang ekono­mi syariah. Ku­liah syariah yang hanya dua kali pertemuan itu sepertinya menjadi pencerahan bagi mata hati Adi­warman. Dari situ ia baru sadar, ternyata ada ilmu ekonomi lain yang lebih menarik.  "Sejak saat itu saya sering membeli buku-buku ekonomi syariah, ikut se­minar dan belajar sendiri tentang syariah.  Sampai-sampai skripsi saya tentang syariah ju­ga," ujar Adiwar­man yang juga menggondol gelar sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Setelah lulus IPB, laki-laki kelahiran Jakarta, 29 Juni 1963 ini mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan master bidang keuangan di Universitas Boston, Amerika Serikat. Lagi-lagi di sini ia menyelesaikan tesis ekonomi syariah Iran. Juga, ia masih sempat kuliah lagi bidang MBA di Universitas European, Belgia. "Saya menjadi yakin dan ingin membuktikan bahwa ekonomi syariah itu realistis dan bisa jalan," ujarnya. Maka, disebarlah banyak surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan di luar negeri.

Sayang, sebelum aplikasi itu mendapat respons ia keburu dipanggil Saefuddin untuk balik ke Indonesia. "Saya tadinya nggak mau pulang. Tapi Pak Saefuddin meyakinkan saya untuk segera pulang karena di Indonesia sudah ada bank syari­ah, yaitu Bank Muamalat yang kala itu sedang dirintis," kenang Adiwarman yang menghabiskan masa remajanya sebagai "anak Menteng" itu.

Lalu tahun 1992 ia masuk ke Bank Muamalat Indonesia (BMI) sebagai staf litbang, yang langsung berada di bawah dirut. Di bank baru itu, kariernya terus melejit menjadi KepalaDivisi dan Pimpinan Wilayah. Namun, tahun 2001 ia keluar dari

BMI dengan posisi terakhir Vice President BankMuamalat Institute (lembagapelatihan BMI). Mengapa keluar dari bank yang sudah 10 tahun dibesarkannya? "Karena banyak permintaan dari relasi untuk mind-set up bisnis baru bank syariah. Agar tidak terjadiconflict of interest dengan BMI lebih baik saya keluar," tuturanakpasangan pengacara kondang, Azwar Karim (almarhum) dan Ida ini.

Ia mengaku dihadapkan pada pilihan yang sulit saat memutuskan keluar dari BMI. "Saya sampai shalat istikharah 6 bulan untuk memantapkan pilihan," ujar pria berwajah Timur Tengah ini. Di satu sisi, BMI ibaratnya bayi yang telah dibesarkan, di lain pihak ia ingin lebih mandiri. "Kalau jadi pegawai otak kita hanya berpikir bagaimana

menghabiskan uang, sedangkan seorang wirausahawan dituntut lebih kreatif dan banyak tantangan bagaimana menghasilkan uang," Adiwarman mengungkapkan.

Beberapa bulan setelah keluar dari BMI ia mengibarkan bendera Karim Business Consulting (KBC). Dengan modal Rp 40 juta (hasil penarikan Jamsostek) digunakan untuk bayar gaji 6 karyawan dan belanja perlengkapan kantor. Awalnya, KBC berkantor di Menara Batavia, Jl. K.H. Mas Mansyur. Ini pun hasil kemurahan hati relasi yang meminjamkan tempatnya.

Boleh dikata, eksistensi KBC di bisnis syariah tahun 2001 bukanlah pionir. Antonio Syafii, yang notabene mantan rekan kerjanya di BMI telah lebih dulu memproklamasikan diri sebagai konsultan syariah lewat Tazkia Consulting. Hanya saja, sepengetahuan Adiwarman kala itu bisnis inti Tazkia di bidang pelatihan dan sedikit menggarap unit usaha syariah. "Untuk itu kami jalankan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain. Ibaratnya, kita main ke pasar yang tidak ada orangnya," ia berujar.

Lalu, segmen pasar mana yang dibidik? Adiwarman menegaskan pihaknya lebih fokus menggarap pasar korporasi. Produk dan layanan yang ditawarkan spesialis dalam pengernbangan produk, perencanaan korporat (menyusun rencana bisnis lima tahun ke depan), identitas korporat, set up unit usaha syariah fstudi kelayakan, membuat buku manual operasi, mengurus perizinan dan memodifikasi sistem teknologi informasi), serta pelatihan.

Tak disangka, masih di tahun 2001 order terus berdatangan. Mula-mula ia mendapat order dari Bank Indonesia untuk membuat buku saku bank syariah dengan nilai proyek Rp 100 juta. Bahkan klien asing pun sudah digenggam, yaitu dari International Institute of Islamic Source di AS untuk mind-set up registered value in Islamic finance.

Tahun 2002 adalah tonggak bersejarah perjalanan bisnis KBC. Momentumnya terjadi setelah Adiwarman memperoleh order membuat perencanaan korporat BNI Sya­riah. Inilah klien pertama yang betul-betul pelaku bisnis perbankan. Bak bola salju, order selanjutnya terus bergulir. Setahun kemudian dilanjutkan kontrak pelatihan dan asistensi ke-12 cabang BNI Syariah. Ia mengaku proyek BNI Syariah datang sendiri.

Sukses mengantarkan BNI Syariah, tahun 2003 tercatat hampir semua bank menjadi kliennya (kecuali Bank IFI Syariah). Ada 17 bank yang membutuhkan sentuhan KBC. Sebut saja Bank Bukopin Syariah, Bank Danamon Syariah, Bank Syariah Mandiri, BII Syariah Platinum, Bank Jabar, Bank Sumut. Kalangan universitas juga menjadi kliennya. Contoh UI, UGM, Undip, Unbraw, IAIN Aceh, IAIN Padang. Bahkan, industri asuransi juga tak mau ketinggalan. Ada Maskapai Reasuransi Indonesia, Bumiputera, Asuransi Astra, Adira Insu­rance dan Jasaraharja Putera yang menjadi kliennya. Kemudian, Bapepam, Mandiri Sekuritas, FIF, Bahana Artha Ventura dan AAA Securities punjatuh dalam genggamannya. Di 2004, ada empat klien yang ditangani KBC: proyek pendirian unit usaha syariah dari Bank DKI, Bank Riau, Bank Niaga dan Bank Permata. Klien untuk layanan pengembangan produk datang dari BMI, BRI Syariah, Bukopin Syariah dan BII Syariah.

Berapa tarif proyeknya? Dikatakan Adiwarman, tergantung banyaktidaknya order dari klien. Sebagai gambaran untuk satu pengernbangan produk rata-rata Rp 60 juta. Biasanya, satu bankbutuh pengembang­an produk dari sisi liabilitas saja hingga 50 produk, sedangkan tarif terbesar adalah pen­dirian unit usaha syariah yang nilainya di atas Rp 1 miliar.

Seiring membanjirnya order, bisnis KBC pun terus maju. Jumlah karyawan naik men­jadi 33 orang dengan tiga konsultan senior dan kantornya pindah ke Plasa DM Sudirman. Ketiga konsultan itu telah teruji kepiawaiannya karena mereka mantan Kepala Divisi TI BMI, Vice President Bank Dana­mon dan doktor pemasaran UI.

Istrinya yang bernama Rustika juga meleburkan diri di KBC di tengah kesibukannya sebagai psikolog di RS Hermina Depok. Adiwarman dan istrinya berbagi tugas. Istrinyangantor pukul 09.00-15.30 untuk mengurus administrasi dan manajemen perusahaan. Sementara itu, Adiwarman membawahkan divisi pemasaran/pengembangan bisnis, bisnis konsultansi, pelatihan dan public relations.

Perjalanan bisnis KBC tidak selamanya mulus. Beberapa kendala sempat menghadang. Pertama, orang sering memandang remeh penampilannya. Sosok Adiwarman memang identik dengan penampilan baju koko, peci serta berjenggot. Takpelak, setiap kali masuk gedung perkantoran untuk presentasi atau meeting senantiasa dicurigai satpam. "Disangkanya, kami ini mau minta sumbangan," ujarnya geli.

Kedua, minimnya SDM yang siap pakai. Sebagai profesi baru, ia mengaku sukar sekali mencari orang yang punya latar belakang pengalaman sebagai konsultan syariah. Tak kurang Rizqullah, Dirut BNI Syariah berkomentar soal keterbatasan SDM syariah yang tangguh. "Kapasitas Adiwarman pribadi memang tak diragukan. Tapi KBC perlu didukung oleh kemampuan SDM yang lebih baik," ungkapnya.

Adiwarman mengaku keberhasilan KBC, selain didukung oleh kompetensi dalam me­muaskan pelanggan, juga karena prinsipnya bermain di jalur bersih. Ia tak mau aksi sogok-menyogok untuk menggolkan pro­yek. Pernah suatu kali ia dijanjikan order proyek dengan syarat si mediator mendapat imbalan sekian persen. "Saya tolak saja ajakan itu," ujar Adiwarman. Meski bermain di jalur bisnis yang bersih, KBC tidak sulit mendapatkan proyek. Ia menambahkan, "Yang sulit adalah bagaimana mendapat kepercayaan klien dan menjaganya."

Keberhasilan KBC, selain didukung oleh
kompetensi dalam memuaskan
pelanggan, juga karena prinsipnya
bermain di jalur bersih. la tak mau aksi
sogok-menyogok untuk
menggolkan proyek.


Hebatnya, akhir 2004 ini KBC siap go international. Perusahaan ini siap masuk ke pasar Thailand, Brunei Darussalam dan Iran. Di ketiga negara itu pasarnya besar dan KBC optimistis, dengan kelebihan yang dimiliki, mampu menaklukkan pasar di negara-negara tersebut. Dari sisi pengalaman, dijelaskan Adiwarman, KBC lebih unggul. Ia mengklaim lembaga konsutannya itu lebih banyak menangani klien ketimbang kon­sultan serupa di Malaysia. Kemudian, dari sisi harga, KBC hanya mematok tarif sepertiga dari tarif konsultan Malaysia. Di Malaysia, lanjutnya, memang lebih dulu berkembang ekonomi syariahnya, tapi sebatas Islamic Windows atau setara dengan pembukaan counterlayanan syariah. Beda dengan Indonesia yang konsepnya membuat bank baru Keberanian Adiwarman menembus pasar internasional lantaran sudah memiliki banyakjaringan. Ia menjadi anggotaorganisasi syariah sedunia, yaitu International Islamic Conference yang melakukan konferensi setahun sekali. Rasa percaya diri itu kian lengkap karena ia pun hendak melanjutkan kuliah doktor ekonomi syariah di Universitas Oxford, Inggris.

Adiwarman optimistis profesi konsultan syariah dapat diandalkan di masa mendatang. Sebab, ini adalah profesi baru sehingga belum banyak pesaing. Di sisi lain, kebutuhan sistem ekonomi syariah kian meluas sejalan tingginya kesadaran umat untuk melakukan transaksi keuangan secara Islami.*

Jagonya Perbankan Syariah
Last Updated ( Wednesday, 11 April 2012 14:02 )  

Statistics

Members : 18459
Content : 140
Web Links : 6
Content View Hits : 361904

Who's Online

We have 59 guests online