YOU ARE HERE: Home article

article

Situs resmi Adiwarman A. Karim

Mujahid Ekonomi dari Timur

REPUBLIKA | Senin, 10 Maret 2014

Bankir dan pengusaha seringkali memiliki cara pandang yang berbeda untuk suatu keadaan bisnis yang sama karena memiliki informasi yang berbeda.  Kejelian George Akerlof, Michael Spence dan Joseph Stiglitz dalam memahami adanya asymmetric information ini menjadikan mereka pemenang Nobel Prize in Economics pada tahun 2001.  Akerlof, Spence dan Stiglitz, ketiganya lahir di zona waktu timur Amerika Serikat.  Dua bentuk yang paling lazim timbul akibat adanya asymmetric information ini adalah adverse selection dan moral hazard.  Perbedaan pandangan antara bankir dan pengusaha, yang dalam bahasa kerennya disebut principal-agent problems, yang dalam perbankan syariah coba diatasi dengan transparan oleh sistem bagi hasil.

Read more...

 

Bernanke dan Imam Nawawi

Hari Rabu di bulan Sya’ban, 19 Juni lalu, gubernur bank sentral AS Ben Shalom Bernanke memberikan isyarat akan diakhirinya kebijakan mengguyur pasar dengan dolar AS yang dikenal sebagai kebijakan Quantitative Easing (QE).  Sebagai guru besar ekonomi di Princeton University sebelum menjabat gubernur bank sentral, tentu Bernanke tahu persis bahwa pasar akan bereaksi terhadap isyaratnya itu.  Teknik mempengaruhi pasar dengan memberikan isyarat kebijakan apa yang akan diambil, disebut moral suasion.

Read more...

 

Memahami Kebijakan Baru BI

REPUBLIKA, 03 Desember 2012 | Pidato Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dalam Pertemuan Tahunan Perbankan pada 23 November memberikan angin segar dan menambah keyakinan akan kesiapan Indonesia menghadapi tantangan di tengah gejolak global. Lingkungan bisnis global yang belum juga kunjung membaik mendorong para pelaku bisnis mengedepankan besarnya permintaan domestik sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi.

Read more...

 

Indonesia to Allow Currency Hedging for Banks: Islamic Finance

Indonesia will let Shariah-compliant banks hedge against exchange-rate movements to spur growth in Islamic financial assets and narrow the gap with Malaysia’s industry, which is seven times larger.

Bank Indonesia, the National Shariah Board and the Indonesia Institute of Accountants have approved the instruments, available in Malaysia since 2006, Adiwarman Azwar Karim, Jakarta-based vice chairman of the board’s Islamic capital market working committee, said in an Aug. 3 interview. The central bank said it is working on regulations, declining to say when they would be finished.

Read more...

   
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  Next 
  •  End 
  • »

Statistics

Members : 18459
Content : 140
Web Links : 6
Content View Hits : 361882

Who's Online

We have 38 guests online